Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin* yang Anda minta: **Tangisan yang Tak Lagi Kusembunyikan** Hujan gerimis membasahi paviliun bambu. Aroma *osmanthus* dan melati bercampur, tak mampu menyembunyikan getirnya teh yang kuminum. Di kejauhan, terdengar sayup suara *guqin*. Nadanya lirih, seolah menari bersama penyesalan yang mencabik. Lima tahun. Lima tahun aku memendam semuanya di balik senyum yang kubuat setenang permukaan danau. Dulu, aku adalah Lin Mei, *putri kesayangan* keluarga Lin, calon pewaris tahta bisnis yang gemilang. Sekarang, aku hanya Lin Mei, janda berumur dua puluh tujuh tahun yang menghabiskan hari-harinya di pengasingan, di tepi Danau Bulan Sabit. Dia, Zhang Wei, adalah tunanganku. Pria yang kunilai sebagai *cermin jiwaku*. Kami berjanji di bawah pohon persik yang mekar, di musim semi yang abadi. Janji yang ternyata rapuh, layaknya kelopak bunga yang diterbangkan angin. Aku tahu. Aku tahu dia berselingkuh dengan Li Na, sahabatku sejak kecil. Aku melihatnya sendiri, di taman bunga kastuba, di malam *Festival Lentera* yang seharusnya menjadi malam kebahagiaanku. Tapi aku diam. Bukan karena aku lemah, *TIDAK*. Aku memiliki alasan yang lebih besar. Alasan yang tersembunyi di balik perutku yang membesar. Alasan yang akan menghancurkan reputasi keluarga Lin dan Zhang jika terungkap. Aku mengandung anak Zhang Wei. Anak yang lahir di luar pernikahan adalah aib bagi keluarga terhormat seperti kami. Aku memilih menyingkir. Menghilang dari peredaran, berpura-pura menerima takdir pahit. Menikah dengan pria tua bangka yang kaya raya, agar status anakku *sah* di mata dunia. Kemudian, menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. Lima tahun berlalu. Zhang Wei dan Li Na menikah, mewarisi perusahaan keluarga. Hidup mereka tampak sempurna. Tapi aku tahu, di balik senyum palsu itu, ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang terus menghantui mereka. ***Misteri itu adalah, siapa yang membocorkan informasi tentang perselingkuhan mereka kepada Ayahku?*** Ayahku, seorang pria yang teguh pada prinsip, tidak akan pernah membiarkan putrinya menikah dengan pria yang tidak setia. Tapi anehnya, Ayah seolah menutup mata. Bahkan, *dialah* yang memaksa aku menikah dengan pria tua itu. Lambat laun, kepingan puzzle mulai tersusun. Aku ingat, malam itu, sebelum *Festival Lentera*, aku bercerita tentang kebahagiaanku kepada seseorang. Seseorang yang sangat dekat. Seseorang yang sangat *kupercaya*. Dan kemudian, aku menyadarinya. Li Na. Dia bukan hanya merebut Zhang Wei dariku. Dia juga merebut *segalanya*. Dengan licik, dia membocorkan perselingkuhannya dengan Zhang Wei kepada Ayahku, *setelah* memastikan aku hamil. Dengan begitu, Ayahku akan terpaksa menyetujui pernikahanku dengan pria lain, agar aib keluarga tertutupi. Dan Li Na, dengan mulus, akan merebut posisi sebagai Nyonya Zhang. Balas dendamku? Aku tidak perlu mengotori tanganku. Takdir yang akan melakukannya. Lima tahun ini, aku diam-diam membangun kerajaan bisnisku sendiri, mengungguli perusahaan keluarga Zhang. Aku mengendalikan semua sumber daya, membuat Zhang Wei bertekuk lutut, memohon padaku. Dia *tidak tahu*, bahwa anak haram yang dulu kucampakkan, kini adalah pewaris sah seluruh kekayaanku. Dia *tidak tahu*, bahwa suatu hari, dia akan memohon kepada darah dagingnya sendiri. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya tersenyum pahit, menyaksikan takdir berbalik arah. Zhang Wei dan Li Na bangkrut, kehilangan segalanya. Mereka jatuh ke dalam jurang keputusasaan, sama seperti yang kurasakan lima tahun lalu. Hujan semakin deras. Tangisanku tumpah, *tangisan yang tak lagi kusembunyikan*. Bukan karena penyesalan, tapi karena *KEADILAN*. Angin bertiup kencang, membawa aroma *osmanthus* dan melati. Di kejauhan, suara *guqin* berhenti. Malam ini, aku bebas… tapi apakah aku benar-benar bahagia?
You Might Also Like: Kisah Populer Aku Mencintaimu Seperti
Post a Comment