Endingnya Gini! Aku Adalah Hantu Di Cintanya Yang Tak Mau Pergi

Aku Adalah Hantu di Cintanya yang Tak Mau Pergi

Gerimis membasahi paviliun lotus, sama dinginnya dengan tatapan kosongku. Delapan belas tahun. Delapan belas tahun aku menjadi hantu di antara mimpinya, bayangan yang menari di sudut matanya ketika ia tersenyum pada wanita lain. Wanita yang seharusnya menjadi milikku.

Dia, Lin Wei, sahabatku sejak kami berebut permen jahe di pasar saat kecil. Saudaraku dalam darah dan rahasia. Kami berlatih pedang bersama di bawah pohon sakura yang sama, berjanji untuk saling melindungi sampai akhir dunia. Lalu dia merebut segalanya.

"Wei, anggur ini terasa pahit," ujarku, menyodorkan cawan giok kepadanya. Senyumnya, selalu menawan, kali ini terasa seperti bilah pedang yang tersembunyi.

"Mungkin karena kau belum terbiasa dengan rasanya, Bai," jawabnya, matanya berkilat licik di balik cahaya lentera. "Atau mungkin, pahitnya hidup yang kau rasakan."

Percakapan kami selalu seperti ini. Permainan catur di mana setiap bidak menyimpan niat tersembunyi. Kami tahu lebih banyak tentang satu sama lain daripada yang kami akui, namun kebenaran terkunci rapat di balik dinding kebohongan yang kami bangun bersama.

Rahasia kami, rahasia keluarga Lin, adalah batu fondasi persahabatan sekaligus jurang pemisah kami. Ayah Wei, sebelum meninggal, mengungkap bahwa dia bukanlah anak kandung keluarga Lin. Dia ditemukan di tepi sungai, membawa liontin giok berbentuk naga – simbol kekuasaan yang seharusnya menjadi milik pewaris sejati keluarga Lin.

Aku.

Wei tahu. Dia selalu tahu. Dia tahu bahwa darah bangsawan mengalir dalam nadiku, darah yang seharusnya membuatnya menjadi orang biasa. Tapi dia tidak menyerah. Dia menyingkirkan semua orang yang tahu kebenaran, memutarbalikkan fakta, dan menjadikan diriku sebagai pelindungnya, tamengnya.

Wanita itu, Mei Ling, mencintaiku. Aku tahu itu dari cara dia menatapku, cara tangannya gemetar ketika aku menyentuhnya. Tapi Wei, dengan pesonanya yang memabukkan, merebutnya dariku. Dia menikahinya, menjadikannya istrinya, sementara aku hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, hantu yang tak terlihat.

Aku tidak bisa membiarkannya terus berlanjut.

Malam itu, di tengah badai petir yang mengamuk, aku menemui Wei di paviliun lotus. Hujan deras menutupi suara pedang yang beradu, topeng kepura-puraan yang akhirnya runtuh.

"Kenapa, Wei? Kenapa kau melakukan ini padaku?" teriakku, amarah membakar jiwaku.

"Karena aku menginginkannya, Bai!" balasnya, matanya dipenuhi kegilaan. "Aku menginginkan kekuasaan, cinta, segalanya! Dan aku tidak akan membiarkanmu merebutnya dariku."

Pedang kami berdansa, menari di atas genangan darah dan pengkhianatan. Setiap tebasan adalah ungkapan rasa sakit, setiap tusukan adalah jeritan keputusasaan. Akhirnya, pedangku menembus jantungnya.

Wei tersungkur, darah membasahi jubahnya. Mei Ling berlari mendekat, air mata membasahi pipinya. Dia menatapku dengan pandangan yang tak akan pernah kulupakan – campuran kebencian dan ketakutan.

"Kau… kau membunuhnya," bisiknya.

"Tidak," jawabku, suaraku bergetar. "Dia membunuhku terlebih dahulu. Dia membunuh kita semua."

Aku berlutut di samping Wei, tanganku gemetar ketika menyentuh liontin giok di lehernya. Liontin yang seharusnya menjadi milikku.

"Aku tahu kau akan melakukannya, Bai," bisiknya, darah mengalir dari mulutnya. "Aku selalu tahu… kau lebih kejam dariku."

Wei menghembuskan napas terakhirnya. Mei Ling menjerit, memeluk tubuhnya erat-erat. Aku berdiri, berjalan menjauh dari paviliun lotus, meninggalkan segalanya di belakangku. Kekuasaan, cinta, hidup.

Aku akan pergi, mengembara tanpa tujuan, selamanya dihantui oleh dosa-dosaku. Aku mungkin menang, tapi kemenangan ini terasa seperti kekalahan yang abadi.

"Aku bukan pahlawan, aku bukan penjahat… aku hanyalah alat yang digunakan untuk menuliskan takdir yang sudah digariskan."

You Might Also Like: Drama Abiss Cinta Yang Menjadi

Post a Comment