PELUKAN YANG MENGANTAR KE AKHIR
Babak 1: Aroma Osmanthus di Tengah Hujan
Hujan musim semi membasahi kota Shanghai. Di tengah hiruk pikuk pejalan kaki yang berteduh, seorang wanita muda bernama Mei berjalan dengan tergesa. Rambutnya yang hitam legam tergerai di punggung, wajahnya yang pucat menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia berhenti di depan sebuah toko bunga kecil. Aroma Osmanthus yang manis menyeruak, mengingatkannya pada sesuatu yang terlupakan.
De javu menghantamnya. Sebuah ingatan samar tentang taman luas dengan pohon Osmanthus yang bersemi di tengah malam. Dan seorang pria… seorang pria dengan senyum hangat dan mata yang penuh cinta.
Di dalam toko, seorang pria berdiri di balik meja. Wajahnya familiar, meski Mei yakin tak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang menggetarkan dalam senyum pria itu.
"Selamat datang," sapanya. "Saya Li Wei."
Mei hanya bisa terpaku. Suara itu… suara itu seperti gema dari masa lalu.
Babak 2: Jejak Masa Lalu
Li Wei memberikan setangkai Osmanthus pada Mei. "Bunga ini… seperti mengingatkanmu pada seseorang?"
Mei terkejut. "Bagaimana kau tahu?"
Li Wei tersenyum misterius. "Mungkin… karena kita pernah bertemu sebelumnya."
Keduanya mulai sering bertemu. Mei merasa tertarik pada Li Wei seperti magnet. Ia menemukan kenyamanan dalam kehadirannya, seolah mereka ditakdirkan untuk bersama. Bersama, mereka menggali masa lalu. Mei mulai bermimpi aneh. Adegan-adegan peperangan, pengkhianatan, dan cinta yang terlarang. Ingatan-ingatan itu terasa nyata, meskipun ia tahu itu bukan hidupnya.
Li Wei membimbingnya. Ia menemukan sebuah buku tua di perpustakaan. Di dalamnya, tertulis kisah sepasang kekasih bernama Lian dan Bo Jing, yang hidup seratus tahun lalu. Lian adalah seorang putri yang pemberani, Bo Jing seorang jenderal yang setia. Cinta mereka terhalang oleh intrik politik dan dendam keluarga. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di kehidupan selanjutnya.
Babak 3: Kebenaran yang Pahit
Semakin Mei dan Li Wei menggali masa lalu, semakin jelaslah bahwa mereka adalah reinkarnasi Lian dan Bo Jing. Namun, ada satu rahasia yang tersembunyi. Bo Jing, demi melindungi Lian, telah melakukan dosa besar. Ia mengkhianati sahabatnya, yang juga mencintai Lian, dan menjebaknya hingga dihukum mati.
Kebenaran itu menghantam Mei seperti petir. Bo Jing, dalam kehidupannya sebagai Li Wei, telah membawa beban dosa selama seratus tahun. Dosa itu telah memisahkan mereka.
Mei merasa marah dan terluka. Namun, ia juga melihat penyesalan yang mendalam di mata Li Wei. Ia tahu bahwa Li Wei telah membayar mahal atas perbuatannya.
Babak 4: Dendam dalam Keheningan
Saatnya membalas dendam. Namun, Mei memilih jalan yang berbeda. Ia tidak ingin mengulangi siklus kekerasan dan kebencian. Ia ingin mengakhiri segalanya dengan keheningan dan pengampunan.
Pada suatu malam, di taman Osmanthus yang sama seperti dalam mimpinya, Mei menghadapi Li Wei. Ia menatapnya dengan tatapan yang menusuk.
"Kau telah melakukan kesalahan besar, Li Wei," kata Mei dengan suara pelan. "Kau telah mengkhianati seseorang yang mencintaiku. Tapi aku… aku memaafkanmu."
Li Wei terkejut. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak pantas mendapatkan pengampunan itu.
Mei memeluk Li Wei. Pelukan itu bukan pelukan cinta, tapi pelukan yang mengantar ke akhir. Sebuah pelukan yang melepaskan Li Wei dari beban dosa dan membebaskan jiwa mereka berdua.
Epilog
Di bawah rembulan yang pucat, Mei meninggalkan Li Wei di taman Osmanthus. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu bahwa ia telah melakukan hal yang benar.
Saat ia berjalan menjauh, ia mendengar bisikan lembut di telinganya:
"Sampai jumpa… di kehidupan selanjutnya."
You Might Also Like: 7 What Is Credit History Discover
Post a Comment