Drama Abiss! Langit Yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama

Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama

Malam itu kelam. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan tebal, seolah enggan menyaksikan tragedi yang akan terukir di atas salju yang membeku. Di lembah terpencil, tersembunyi di balik reruntuhan kuil tua, asap dupa mengepul, membawa aroma pahit yang menyesakkan. Di tengahnya, berdiri Bai Lian, gaun merahnya bagai setetes darah di hamparan putih. Di hadapannya, berlutut pria yang dulu mengisi setiap inci hatinya: Jian Feng.

"Jian Feng," desis Bai Lian, suaranya serak, bagai gesekan batu. "Pandang aku. Berani kau tatap mata ini setelah semua yang kau lakukan?"

Jian Feng mengangkat wajahnya. Mata itu, yang dulu menyimpan kelembutan, kini penuh dengan penyesalan dan ketakutan. "Lian… maafkan aku."

Maaf? Kata itu terasa bagai ludah di wajah Bai Lian. MAAF?

"Maaf katamu?" Bai Lian tertawa sinis, suara tawanya bergema di keheningan malam. "Apakah maaf bisa menghapus darah yang kau tumpahkan? Apakah maaf bisa mengembalikan kehormatan keluargaku yang kau renggut?"

Ingatan itu kembali menghantui Bai Lian: malam pembantaian, api yang membara, jeritan kesakitan, dan wajah-wajah yang tak berdosa meregang nyawa. Semua itu, atas perintah Jian Feng. Demi kekuasaan, demi ambisi, dia mengkhianati segalanya. Termasuk dirinya.

"Aku… aku terpaksa," lirih Jian Feng, mencoba meraih tangan Bai Lian. "Aku tidak punya pilihan."

Bai Lian menepis tangannya dengan kasar. "Pilihan? Kau selalu punya pilihan! Tapi kau memilih untuk menjadi iblis!"

Dulu, di bawah pohon sakura yang mekar, mereka berjanji untuk saling melindungi, untuk mengarungi badai bersama. Janji itu, kini hanya abu yang bertebaran di antara mereka. Abu dari cinta yang telah mati, abu dari kepercayaan yang telah hancur.

"Kau tahu," bisik Bai Lian, mendekat ke arah Jian Feng. "Aku menghabiskan bertahun-tahun untuk membalas dendam. Setiap hari, setiap malam, aku hanya memikirkan satu hal: bagaimana caranya membuatmu merasakan sakit yang kurasakan."

Dia mencabut belati perak dari balik gaunnya. Cahaya bulan memantul di bilahnya yang tajam. Jian Feng memejamkan mata, pasrah pada takdirnya.

Namun, alih-alih menikam jantungnya, Bai Lian menggoreskan belati itu di pipi Jian Feng, tepat di atas bekas luka lama. Darah segar menetes, mewarnai salju di bawahnya.

"Ini bukan hukuman mati, Jian Feng," kata Bai Lian, suaranya dingin bagai es. "Ini adalah hukuman yang jauh lebih buruk. Kau akan hidup dengan bekas luka ini, setiap hari, setiap saat, kau akan mengingat pengkhianatanmu. Kau akan hidup dengan rasa bersalah, sampai akhir hayatmu."

Bai Lian berbalik, meninggalkan Jian Feng yang berlutut di tengah salju. Dia melangkah pergi, tanpa menoleh sedikit pun. Balas dendamnya telah usai. Bukan dengan darah, melainkan dengan kenangan.

Di balik punggungnya, Jian Feng berteriak, memanggil namanya. Tapi Bai Lian tak peduli. Dia hanya terus berjalan, menembus kegelapan malam, menuju masa depan yang tak pasti.

Langkahnya terhenti di puncak bukit. Ia menatap langit yang kelam, seolah mencari jawaban. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menusuk.

"Dia memang pantas hidup dalam penyesalan, tapi… akankah aku benar-benar bahagia setelah ini?"

Dan malam itu, langit yang menyaksikan pengkhianatan pertama, juga menyaksikan keheningan dendam yang jauh lebih mematikan.

You Might Also Like: Kelebihan Moisturizer Gel Lokal Untuk

OlderNewest

Post a Comment