Baik, ini dia cerita pendek bergaya dracin yang Anda inginkan: **Judul: Aku Ingin Memelukmu, Tapi Batas Itu Selalu Memisahkan** Malam itu sunyi, sepuluh tahun lalu, suara *guqin* mengalun lirih di Paviliun Bulan Purnama. Setiap senar yang bergetar terasa bagai tetesan air mata di hatiku. Di sanalah, di bawah rembulan yang sama, aku melihatnya. Senyumnya, yang dulu kurasa sehangat mentari pagi, kini terasa bagai duri yang menghujam jantungku. Dia, Lin Mei, wanita yang kucintai lebih dari nyawaku sendiri, berpegangan tangan dengan kakakku, Lin Wei. Tawa mereka, dulu bagai melodi indah yang selalu kurindukan, kini terasa seperti ***cacian***. Aku tahu. Aku tahu mereka saling mencintai. Dan aku, Lin Fan, hanyalah bayangan yang tak pernah benar-benar ada di antara mereka. Dulu, aku berteriak. Dulu, aku marah. Dulu, aku menghancurkan segalanya. Tapi, semua itu hanya di dalam hatiku. Di luar, aku hanya tersenyum pahit dan mengangguk, "Selamat." Kenapa? Kenapa aku memilih diam? Karena aku tahu **RAHASIA**. Rahasia yang akan menghancurkan seluruh keluarga Lin jika terungkap. Rahasia tentang asal-usul Lin Wei yang sebenarnya. Rahasia yang kubawa sampai mati. Aku pergi. Aku meninggalkan kediaman Lin. Aku meninggalkan mereka. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku memilih melindungi. Aku tahu, takdir akan memiliki caranya sendiri untuk membalas. Sepuluh tahun berlalu. Aku kembali. Bukan sebagai Lin Fan yang dulu, tapi sebagai Tuan Li, seorang pengusaha sukses yang disegani. Lin Mei dan Lin Wei? Mereka sudah menikah dan memiliki seorang putra, Lin Yi. Semuanya tampak bahagia, sempurna. Terlalu sempurna. Kemudian, hal itu mulai terjadi. Bisnis keluarga Lin mulai goyah. Investasi yang gagal, kesepakatan yang dibatalkan, reputasi yang tercoreng. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu *sistematis*. Aku? Aku hanya menonton. Menonton dengan hati yang hancur, tapi dengan tekad yang membara. Aku tidak melakukan apa pun secara langsung. Aku hanya menempatkan bidak-bidak di tempat yang tepat, membiarkan *takdir* melakukan sisanya. Suatu malam, Lin Mei datang kepadaku. Matanya sembab, suaranya bergetar. Dia memohon. Dia memohon agar aku membantu keluarganya. Dia tidak tahu bahwa akulah yang berada di balik semua ini. "Tuan Li," katanya, "tolonglah. Aku... aku tahu aku tidak pantas, tapi aku mohon..." Aku menatapnya. Wajahnya masih cantik, tapi kerutan di sekitar matanya menceritakan kisah kesedihan dan kekecewaan. "Apa yang bisa kulakukan, Nona Lin?" tanyaku, dingin. Dia terisak. "Aku... aku tahu ini permintaan yang tidak masuk akal, tapi bisakah kau menyelamatkan perusahaan keluarga kami?" Aku tersenyum tipis. "Tentu saja. Ada satu syarat." Dia menatapku, bingung. "Beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu? Apa alasan sebenarnya kau memilih Lin Wei?" Dia terdiam. Matanya membulat. "Bagaimana kau bisa..." Aku mendekatinya. "Aku tahu semuanya, Lin Mei. Aku tahu tentang surat yang kau terima. Surat dari **Nyonya Besar Wang**. Surat yang mengancam akan mengungkap rahasia Lin Wei jika kau tidak menikahi kakakku." Dia tersentak. Rahasia itu... Rahasia tentang Lin Wei yang merupakan anak haram Nyonya Besar Wang, bukan anak kandung Ibu Lin. "Aku melakukan semua ini untuk melindungi Lin Wei," bisiknya. Aku tertawa hambar. "Melindungi? Dengan menghancurkan hatiku?" Kemudian, aku menceritakan segalanya. Tentang identitasku yang sebenarnya, tentang bagaimana aku memalsukan kematianku, tentang bagaimana aku merencanakan ini semua. Dia menangis. Menyesal. Tapi semua sudah terlambat. Aku melepaskan keluarganya dari kebangkrutan. Aku memberikan mereka kehidupan yang layak. Tapi, aku tidak pernah memaafkan mereka. Beberapa bulan kemudian, aku menemukan sebuah kotak musik tua di loteng rumah masa kecilku. Kotak musik yang sama yang dulu sering dimainkan Lin Mei. Saat kubuka, alunan *guqin* yang熟悉的melodi yang familiar terdengar, diikuti sebuah surat kecil: *"Lin Fan, maafkan aku. Aku selalu mencintaimu. Tapi, aku tidak punya pilihan. Aku harap kau bahagia."* Tanganku mengepal. Aku menutup kotak musik itu. Takdir memang memiliki selera humor yang kejam, bukan? Memberikan balas dendam bukan dalam bentuk darah, tapi dalam bentuk penyesalan abadi. Dia meninggal dunia dua tahun kemudian karena penyakit misterius. Lin Wei menyusul satu tahun kemudian karena serangan jantung. Anak mereka, Lin Yi, tinggal sebatang kara. Aku memberikan Lin Yi beasiswa untuk kuliah di luar negeri, memastikan dia mendapatkan pendidikan terbaik. Aku mengawasi perkembangannya dari jauh, tanpa pernah sekalipun menunjukkan diri. Aku ingin memeluknya, tapi batas itu selalu memisahkan; batas yang kubangun sendiri, batas yang tak akan pernah bisa kuhancurkan... ***Mungkinkah… mungkinkah dia tahu, bahwa aku adalah pamannya?***
You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas Di
Post a Comment