Oke, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari tema tersebut, dengan penekanan pada emosi, simbolisme, dan *akhir yang mengejutkan*: **Di Bawah Payung Hujan yang Menggigil** Hujan di malam ke-15 Festival Lentera ini terasa lebih dingin dari biasanya. Seolah merangkak masuk ke dalam tulang, membawa serta kenangan yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam. Mei berjalan perlahan di sepanjang jembatan batu, payung merah delima di tangannya bergetar seirama dengan jantungnya. Di kejauhan, cahaya lentera-lentera redup tampak seperti bintang-bintang yang jatuh, saksi bisu bisikan masa lalu. Dulu, di tempat inilah, di bawah cahaya lentera yang sama, Li Wei berjanji akan mencintainya selamanya. Dulu, bibir Li Wei terasa hangat di bibirnya, sehangat mentari pagi setelah musim dingin yang panjang. Dulu, Mei percaya pada setiap kata, setiap sentuhan. Tapi, itu dulu. *Kenyataannya*, janji itu bagai debu yang diterbangkan angin. Li Wei memilih tahta dan kekuasaan daripada cinta mereka. Ia menikahi putri jendral, mengkhianati Mei, dan meninggalkan hatinya berdarah-darah. Bayangan Mei terpantul di genangan air, *bayangan yang patah*, persis seperti hatinya. "Mei," suara itu, yang dulu membuatnya tersenyum, kini hanya membangkitkan amarah yang membara. Li Wei berdiri di belakangnya, wajahnya dilukis oleh cahaya lentera yang berkedip. Ketampanannya tidak memudar, tapi di mata Mei, ia hanya terlihat seperti monster yang menyamar. "Apa yang kau inginkan, Li Wei?" tanya Mei, suaranya datar, tanpa emosi. Hujan semakin deras, membasahi gaun sutranya. "Aku... aku merindukanmu," jawab Li Wei, ragu-ragu. Mei tertawa, tawa yang dingin dan hampa. "Kau merindukanku? Setelah semua yang kau lakukan? Setelah kau menghancurkan hidupku?" "Aku terpaksa! Aku harus melindungi kerajaanku!" "Melindungi kerajaanmu? Dengan mengorbankan cintamu? Lalu, apa yang kau lakukan sekarang? Mengunjungi *kuburan cinta* kita?" Mei menunjuk ke bawah jembatan, ke sungai yang mengalir deras. Li Wei terdiam. Hujan menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresinya. "Mei, aku tahu aku salah. Tapi, aku bersumpah, aku tidak pernah berhenti mencintaimu." Mei menatapnya, matanya setajam belati. "Kau mencintaiku di kehidupan ini, tapi aku mencintaimu di kematianmu." Dia menunjuk ke arah minuman yang dibawanya, "minumlah ini." "Apa ini?!" "Anggur kesukaan kita dulu, sudah kusiapkan spesial untukmu." Li Wei menyesap anggur tersebut, "Rasanya... agak aneh... tapi tetap enak." Mei menyeringai, "Kau benar, memang sangat enak. Anggur ini dicampur dengan tumbuhan yang sangat beracun." Li Wei memuntahkan sisa minumannya, "Kau... Apa maksudmu?!" "Balas dendam," jawab Mei singkat. Tiba-tiba dia merasakan sakit yang amat dahsyat di bagian dadanya. Li Wei mencengkram dadanya, "Kau... dasar wanita licik... aku..." Mei tersenyum puas dan membiarkan Li Wei tenggelam dalam hujan yang mengguyur dan merenggut nyawanya. Ia pun berkata, "Dengan kematianmu, kau akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanmu." Mei berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Li Wei yang tergeletak di jembatan batu, napasnya terhenti di tengah hujan. Cahaya lentera di dekatnya *NYARIS PADAM*, seolah ikut berduka atas akhir tragis sebuah kisah cinta. Di genggaman tangan Mei, tersembunyi sebuah jimat giok yang sudah retak. Jimat yang dulunya utuh, sama seperti janjinya. *Tapi, benarkah hanya balas dendam yang memotivasinya? Ataukah, ada rahasia yang lebih besar yang disembunyikannya, rahasia yang berhubungan dengan jimat yang retak itu dan kutukan turun temurun keluarganya selama ini?*
You Might Also Like: Drama Seru Air Mata Di Ujung Pedang
Post a Comment