Kau Merobek Sumpah, Lalu Memintaku Tetap Percaya
Denting guqin mengalun lirih di malam yang sunyi. Di balkon Istana Bulan, aku berdiri memandang danau yang berkilauan seperti taburan bintang. Bulan purnama menyinari wajahku, namun tak mampu menghangatkan hati yang membeku.
Dulu, di tempat ini, di bawah rembulan yang sama, kau berjanji setia abadi. Kau, Pangeran Mahkota Li Wei, berlutut di hadapanku, Mei Lan, putri seorang tabib desa, dan mengikrarkan sumpah yang sakral. Kau bersumpah akan melindungiku, mencintaiku, dan hanya aku seorang yang akan menjadi permaisurimu.
Namun, sumpah itu kini hanyalah debu yang beterbangan ditiup angin.
Pernikahan politik, alasan yang klasik, merenggutmu dariku. Putri Jenderal Agung Jiang, seorang wanita yang berdarah bangsawan dan memiliki kekuasaan, menjadi pilihan ibumu. Kau, dengan mudahnya, menerima. Kau MEROBEK sumpah itu di depan mataku, lalu dengan wajah tanpa dosa, memintaku untuk tetap percaya.
Percaya pada apa? Pada cinta yang kau injak-injak? Pada janji yang kau ludahi?
Aku memilih diam. Bukan karena aku lemah, bukan karena aku tak berdaya. Aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang terlalu berbahaya untuk diungkapkan, sebuah rahasia yang terikat erat dengan takdir kerajaan.
Setiap malam, aku memainkan guqin. Melodi yang sama, melodi yang kau sukai, melodi yang kini terasa seperti ratapan. Aku melihatmu dari kejauhan, selalu dikelilingi oleh para selir dan dayang-dayang. Kau terlihat bahagia, Pangeran Li Wei. Apakah kau benar-benar melupakanku?
Beberapa tahun berlalu. Istana dipenuhi intrik dan pengkhianatan. Aku menyaksikan semuanya dalam diam. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang terasa tidak beres. Jenderal Agung Jiang, ayah dari permaisuri, semakin lama semakin berkuasa. Desas-desus tentang pemberontakan mulai beredar.
Suatu malam, aku mendengar percakapan rahasia. Permaisuri dan Jenderal Agung Jiang berencana untuk meracuni Kaisar dan merebut tahta untuk Pangeran Li Wei… atau lebih tepatnya, untuk diri mereka sendiri.
RAHASIAKU! Saatnya telah tiba.
Aku menemui Kaisar, mengungkap semua rencana busuk itu. Aku menyerahkan bukti-bukti yang telah kukumpulkan selama bertahun-tahun. Kaisar terkejut, marah, dan… terkejut. Karena aku, Mei Lan, putri seorang tabib desa, ternyata adalah cucu Kaisar yang hilang, putri dari mendiang Putri Agung.
Kaisar membatalkan pernikahanmu dengan putri Jenderal Agung Jiang. Kekuatan keluarga Jiang hancur dalam semalam. Kau, Pangeran Li Wei, dicopot dari gelar dan diasingkan ke perbatasan.
Takdir berbalik arah. Kau kehilangan segalanya, sementara aku… menjadi Putri Mei Lan, pewaris tahta.
Balas dendamku? Tidak, ini bukan balas dendam. Ini adalah takdir. Takdir yang telah ditulis sejak lama, takdir yang membawaku kembali ke tempatku seharusnya berada.
Aku melihatmu terakhir kali dari jauh. Kau menatapku dengan tatapan yang penuh penyesalan dan putus asa. Aku memalingkan wajah. Aku tak bisa mengasihanimu.
Kau telah merobek sumpah, dan aku… aku hanya bisa berharap, di kehidupan selanjutnya, kita tak pernah bertemu lagi.
Namun, siapakah sebenarnya yang meracuni Putri Agung, ibuku?
You Might Also Like:
Post a Comment