Cerita Populer: Aku Terlambat Mati, Ia Terlambat Mencinta

## Aku Terlambat Mati, Ia Terlambat Mencinta Embun pagi merayapi kelopak mawar, serupa air mata yang enggan jatuh. Di Villa Anggrek ini, aroma kebohongan lebih menyengat dari wewangian bunga. Aku, Lin Wei, hidup dalam kepura-puraan. Istri sempurna, menantu idaman, pewaris tunggal Lin Corp. Padahal, di balik senyum manisku, tersembunyi bangkai masa lalu yang membusuk. Lalu, dia datang. Xiao Feng, dengan mata setajam elang dan hati yang menyimpan badai. Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang pengacara yang disewa keluarga Lin untuk "meluruskan" beberapa dokumen. Namun, kehadirannya bagai gempa kecil yang perlahan meretakkan fondasi kebohonganku. Xiao Feng mencari kebenaran. Dia mengorek masa lalu, menggali luka lama yang kututupi dengan selimut kemewahan. Setiap pertanyaan yang dia ajukan, bagai tusukan jarum yang membangkitkan memori **MENYAKITKAN**. Dia tidak tahu, kebenaran yang dia cari akan menghancurkanku, dan mungkin, juga dirinya. "Nyonya Lin, apakah Anda yakin dengan pernyataan ini?" tanyanya suatu sore, di bawah rembulan yang pucat. Nada suaranya lembut, namun matanya menyorotkan kecurigaan. Aku hanya tersenyum, mengelak. Permainanku harus terus berlanjut. Hari-hari berlalu dalam ketegangan yang mencekik. Xiao Feng semakin dekat dengan kebenaran. Aku merasakan panik yang menggigit. Keluarga Lin, kekayaan yang kupegang, semua akan lenyap jika rahasia itu terungkap. Rahasia tentang malam itu, tentang api, tentang kematian yang tidak disengaja – ataukah disengaja? Di balik tatapan tajamnya, aku melihat sesuatu yang lain. Kasihan? Atau… cinta? Ironis. Dia mencintai seorang wanita yang hidup dalam kebohongan, seorang wanita yang tangannya berlumuran dosa. **Terlambat**. Kami berdua terlambat. Aku terlambat mati, dia terlambat mencinta. Puncaknya tiba saat ulang tahun mendiang ayahku. Semua orang berkumpul, berpesta pora di atas kebohongan. Xiao Feng berdiri di tengah ruangan, memegang mikrofon. Suaranya tenang, namun menggema bagai lonceng kematian. "Saya menemukan kebenaran tentang kematian Tuan Lin yang terhormat," ujarnya, matanya tertuju padaku. "Kematian itu...bukanlah kecelakaan." Dunia terasa runtuh. Tatapan semua orang tertuju padaku. Ibuku menangis. Saudara lelakiku, yang selama ini diam-diam membenciku, menyeringai puas. Xiao Feng melanjutkan, membongkar semua kebohonganku, mengungkap peran aku dalam kematian ayahku. Pada akhirnya, aku mengaku. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Semuanya hancur. Xiao Feng menatapku, air mata mengalir di pipinya. "Mengapa?" bisiknya. "Mengapa kamu melakukan ini?" Aku tidak menjawab. Kata-kata terlalu sulit untuk diucapkan. Penyesalan terlalu dalam untuk dirasakan. Pengakuanku membawa konsekuensi. Aku kehilangan segalanya. Keluarga, kekayaan, kebebasan. Namun, yang paling menyakitkan adalah kehilangan Xiao Feng. Dia pergi, membawa bersamanya harapan terakhirku. Bertahun-tahun kemudian, aku berdiri di depan makam ayahku. Sebuah senyum tipis terukir di bibirku. Aku telah membalas dendam. Bukan hanya pada ayahku, tapi juga pada seluruh keluarga Lin yang telah memaksaku hidup dalam kebohongan. Balas dendam yang tenang, namun menghancurkan. Balas dendam yang dibayar dengan nyawaku sendiri. Aku menaburkan bunga lily putih di atas makam. Aroma kematian menguar dari kelopak bunga. *Apakah kebenaran akan benar-benar membebaskan, atau justru mengutuk selamanya?*
You Might Also Like: Agen Skincare Bisnis Tanpa Modal Di

OlderNewest

Post a Comment