## Langit yang Menyaksikan Awal Baru Hujan kota, seperti air mata digital, jatuh membasahi layar ponselku. Pantulan lampu neon membentuk mosaik absurd di wajahku yang pucat. Aroma kopi dari cangkir yang mulai dingin terasa pahit, sama pahitnya dengan notifikasi terakhir dari *dia*. Lin Xiao. Namanya dulu memenuhi setiap sudut memoriku, terukir di antara stiker-stiker lucu di aplikasi chat dan *screenshoot* obrolan tengah malam yang penuh janji. Sekarang, namanya terasa seperti mantra usang, berdering hampa di telingaku. Kami bertemu di sebuah forum *online* – tempat para seniman muda berbagi mimpi dan kegelisahan. Dia, dengan sajak-sajaknya yang melankolis tentang langit dan bintang, aku, dengan sketsa-sketsaku yang berusaha menangkap *kegelapan kota*. Hubungan kami tumbuh dari komentar-komentar singkat menjadi percakapan panjang yang terasa seperti *menemukan rumah*. Tapi rumah itu terbakar. Kenangan tentang Lin Xiao adalah *kabut*. Potongan-potongan puzzle yang hilang, menciptakan lubang besar di dadaku. Ada tawa renyah yang bergema di telingaku, sentuhan tangannya yang hangat di musim dingin, dan tatapannya yang intens, seolah melihat menembus jiwaku. Tapi ada juga **RAHASIA**. Sebuah rahasia yang disembunyikan di balik senyumnya yang menawan, di balik kata-kata cintanya yang begitu meyakinkan. Sebuah rahasia yang aku temukan secara tidak sengaja, tersembunyi di folder *cloud* yang seharusnya hanya berisi foto-foto kenangan kita. Di sana, aku menemukan fotonya dengan seorang wanita lain. Wanita yang sangat mirip denganku. Wanita yang, kurasa, adalah dia *sebelum aku*. Wanita yang juga pernah mendengarkan janji-janji manisnya tentang langit dan bintang. Kehilangan ini, tidak seperti kehilangan lainnya. Ini adalah kehilangan yang berbisik, merayap di bawah kulit, meninggalkan jejak luka yang tak terlihat. Aku mencoba mengirimkan pesan, tapi jemariku gemetar. Kata-kata yang kurangkai terasa hambar, tidak mampu menyampaikan kemarahan dan kekecewaanku. Chat yang tak terkirim itu menjadi saksi bisu kebisuan hatiku. Aku menghabiskan berbulan-bulan mencoba memahami. Mencoba mencari tahu apa yang salah denganku. Apakah cintanya memang pernah nyata? Apakah aku hanya pengganti sementara? Lalu, aku *menemukan jawabannya*. Bukan dari kata-katanya, karena dia memilih untuk diam. Bukan dari penjelasannya, karena dia memilih untuk menghilang. Aku menemukannya di mataku sendiri, dalam refleksi diriku yang lebih kuat dan lebih berani. Ini bukan tentang dia. Ini tentang aku. Balas dendamku tidak berbentuk teriakan histeris atau sumpah serapah. Balas dendamku adalah *kemanisan* dari melangkah maju, dari membangun diriku kembali dari abu. Balas dendamku adalah *keheningan emas*. Aku menghapus semua fotonya. Memblokir semua kontaknya. Menghapus semua jejak digital keberadaannya dari hidupku. Hujan kota mulai mereda. Aroma kopi yang pahit kini berganti aroma harapan. Aku berdiri di depan jendela, menatap langit yang mulai cerah. Lalu, aku menulis sebuah pesan singkat, satu-satunya pesan yang akan dia terima dariku: "Terima kasih atas pelajarannya. Sekarang, giliranku untuk menulis cerita yang lebih indah." Aku mengirimkannya. Lalu, aku tersenyum. Senyum terakhir. **Tidak ada kata-kata. Hanya angin.**
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama
Post a Comment