**Cinta yang Menghapus Semua Warna** Hujan abu menerpa Wuzhen, menyelimuti kota air itu dalam kabut kelabu. Di tengahnya, berdiri Xiaohua, gaun sutranya basah dan menempel di tubuhnya yang gemetar. Matanya yang dulu berbinar kini meredup, seperti lentera yang kehabisan minyak. Di hadapannya, berdiri Li Wei, punggungnya tegak namun bahunya merosot, menanggung beban yang tak terkatakan. Dulu, di bawah langit biru Wuzhen yang sama, mereka berjanji. Janji abadi, diukir di hati dan diukir di bambu. Janji yang berbunyi: *“Sampai maut memisahkan.”* Sekarang, maut itu telah hadir, bukan dalam rupa kematian, tapi dalam bentuk pengkhianatan. Li Wei, dengan suara serak, memecah keheningan. "Xiaohua... Maafkan aku." Maaf. Kata itu terasa hambar, seperti air sungai yang tercemar. Apakah maaf bisa mengembalikan waktu yang dicuri? Apakah maaf bisa menyembuhkan luka yang menganga di hatinya? Xiaohua mendongak, setetes air mata bercampur dengan hujan abu yang menetes di pipinya. "Kau tahu, Li Wei? Cinta kita dulu... itu seperti lukisan yang penuh warna. Merah untuk gairah, biru untuk kesetiaan, hijau untuk harapan. Kau... kau telah menghapus semua warna itu." Li Wei menunduk, tak berani menatap mata Xiaohua. Ia tahu, ia telah melakukan sesuatu yang **FATAL**. Ia memilih kekuasaan, memilih ambisi, dan meninggalkan Xiaohua di pusaran tak berdaya. Ia menikahi putri Jenderal Agung, demi memperkuat posisinya. Demi tahta. Demi... *segala-galanya kecuali cinta sejati.* "Aku... aku terpaksa, Xiaohua! Kau harus percaya padaku!" "Terpaksa?" Xiaohua tertawa getir. "Kau terpaksa menikahi wanita lain? Kau terpaksa melanggar janji kita? Kau terpaksa menghancurkan hatiku?" Suaranya meninggi, melampaui gemuruh hujan. Ia meraih liontin giok yang selalu dipakainya – hadiah dari Li Wei bertahun-tahun lalu. Dengan gerakan patah hati, ia melemparnya ke tanah. Giok itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil, seperti hatinya. "Dulu, aku berpikir bahwa cintamu adalah kekuatan terbesarku. Sekarang... aku tahu bahwa itu adalah kelemahan terbesarku. Kau telah memberiku pelajaran berharga, Li Wei. Kau telah mengajariku bagaimana caranya untuk... **TIDAK PERCAYA** pada siapa pun." Li Wei berusaha meraihnya, tapi Xiaohua menghindar. Ia berjalan menjauh, menyusuri jalanan Wuzhen yang basah dan sepi. Li Wei berteriak memanggil namanya, tapi suaranya tenggelam dalam gemuruh hujan dan kepedihan yang tak terucapkan. Beberapa bulan kemudian, istana dilanda kerusuhan. Jenderal Agung, yang menikahkan putrinya dengan Li Wei demi memperkuat kekuasaan, tiba-tiba berbalik arah. Ia mengungkap kejahatan Li Wei, mengungkap korupsi dan pengkhianatan yang selama ini disembunyikan. Li Wei dilucuti dari gelarnya, dijebloskan ke penjara bawah tanah, dan ditinggalkan oleh semua orang. Xiaohua, yang kini dikenal dengan nama samaran yang berbeda, berdiri di balik tirai bambu, menyaksikan kejatuhan Li Wei dari kejauhan. Ia tidak mengotori tangannya. Ia tidak merencanakan apa pun. Ia hanya... menunggu. *Seolah takdir sendiri yang menuntut keadilan.* Hujan abu tetap turun di Wuzhen. Di antara cinta dan dendam, apakah ada ruang untuk ampunan, atau hanya abu yang akan tersisa?
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Membunuh Ulat Dalam

Post a Comment